Politik Karangan Bunga Bangkai

Sejak Pilkada DKI usai, hal-hal yang memuakkan kembali lagi muncul ke permukaan. Saya yang sejak awal enek bin muak dengan hal-hal yang terjadi menjadi tambah enak bin muak melihat hal-hal seperti ini kembali membuat heboh bangsa ini.

Saya kok melihatnya hal-hal seperti ini berbau kepentingan. Dan saya melihatnya sebagai “Politik Karangan Bunga Bangkai“, Gak ada manfaatnya dan penuh muslihat. Bunga-bunga busuk tersebut tidak dapat menggantikan pilihan rakyat Jakarta yang mencapai 57% itu untuk pemimpin barunya. “Emang lo pikir bunga bisa menggantikan hati – bangke banget kan”.

Lucunya lagi, hari ini karangan bunga pun muncul di Polri, dan saya makin tertawa dengan apa yang terjadi dengan kejadian hari ini. Baik itu dari karangan bunganya serta tanggapan dari pemimpin di Instansi tersebut yang menurut saya sangat berlebihan dalam menanggapinya.

Padahal bisa jadi karangan bunga yang ada di Polri saat ini adalah karangan bunga dengan bahasa-bahasa sindiran yang sebenarnya menyindir instansi kepolisian itu sendiri. Untuk Polri, Indonesia ini terpecah karena stigma-stigma yang dikeluarkan oleh sang Penista Agama dan para pendukungnya yang menurut saya sangat tidak toleran dengan perbedaan dan hak keberagaman dan saat ini masuk dalam barisan sakit hati yang belum bisa move on menghadapi apa yang terjadi saat ini.

Kejadian-kejadian yang pernah saya dan keluarga alami membuat saya semakin antipati dengan para penegak hukum di negeri ini … Basi banget dah menurut saya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *