Menentukan 1 Syawal 1438 H

Tidak terasa kita sekarang berada di penghujung bulan Ramadhan yang kita cintai. Hari ini adalah tepat hari ke 29 kita berpuasa, dan merupakan hari yang tepat untuk melakukan perhitungan Hisab dan Rukyat untuk menentukan 1 Syawal. Hebohnya sih besok atau tepat Maghrib nanti sudah masuk 1 Syawal sehingga besok kita berlebaran. Tapi sebagai sunnah untuk umat Islam, kita Hisab dan Rukyat dulu yok biar lebih afdol.

Kita akan melakukan perhitungan dengan menggunakan software yang sama seperti yang kita gunakan pada saat penentuan 1 Ramadhan 1438 H satu bulan yang lalu.

Untuk diketahui bersama, telah ada kesepakatan di sidang itsbat tentang penggunaan kriteria Hisab Imkan Rukyat dengan angka (2 – 3 – 8), yaitu:

  • Tinggi (altitude) minimal 2 derajat;
  • Jarak bulan dan matahari minimal 3 derajat;
  • Umur bulan 8 jam.

Dan selain kesepakatan di atas, ada juga kriteria usulan dari Bapak T. Djamaluddin mengenai kriteria Hisab Imkan Rukyat, yaitu:

  • Beda tinggi minimal bulan dan matahari > 4 derajat;
  • Jarak sudut bulan – matahari > 6,4 derajat.

Sebelum memulai perhitungan saya akan menyajikan gambar penampakan pergerakan bulan di dunia pada tanggal 24 Juni 2017 sebagai langkah awal sebelum kita melakukan perhitungan lebih lanjut, dan hari ini adalah tanggal 29 Ramadhan 1438 H sebagai hari yang tepat untuk melakukan perhitungan dan pengamatan.

Penambakan Bulan 24 Juni 2017

Dari gambar penampakan pergerakan bulan di atas (24 Juni 2017 saat Sunset) tampak bahwa bulan untuk wilayah Indonesia belum bisa dilihat dengan mata telanjang. Lihat garis arsir tanpa warna yang menunjukkan bahwa hilal tidak dapat dilihat meskipun dengan menggunakan alat optik seperti Teleskop. Namun karena hari ini adalah hari ke 29 Ramadhan 1438, maka hari ini adalah saat yang tepat untuk melakukan perhitungan dan pengamatan.

Untuk mengetahui posisi bulan pada tanggal 24 Juni 2017 bisa dilakukan dengan menggunakan Software Accurate Times dengan terlebih dahulu mengetahui kapan waktu Maghrib saat tanggal 24 Juni 2017 yang diketahui jatuh pada jam 17.48 WIB, sehingga diketahui:

Hisab dan Rukyat 24 Juni 2017

  • Altitude Bulan : +03:03:16 = 3.054444°
  • Altitude Matahari : -00:43:29 = -0.7247222°
  • Azimuth Bulan : 289:29:35 = 289.4931°
  • Azimuth Matahari : 293:23:55 = 293.3986°

Dengan data-data tersebut di atas, maka kita akan melakukan perhitungan:

Tinggi Bulan = 3.054444°

Beda Tinggi Bulan Matahari = 3.054444° – (-0.7247222°) = 3.7791662°

Beda Azimuth Bulan Matahari = 293.3986° – 289.4931° = 3.9055°

Jarak Bulan Matahari = akar (3.054444^2 + 3.9055^2) = akar(9.3296+15.2529) = 4.9580°

===

Sesuai dengan kriteria Hisab Imkan Rukyat (2 – 3 – 8):

Tinggi Bulan = 3.054444

Pada tanggal 24 Juni 2017, tinggi bulan sudah mencapai 3.05444 sehingga dengan melihat parameter tersebut dapat disimpulkan bahwa 24 Juni 2017 ba’da Maghrib sudah masuk tanggal 1 Syawal (Walaupun jika di rukyat hilal tidak dapat dilihat meskipun menggunakan alat optik seperti Teleskop.

Jarak Bulan Matahari = 4.9580

Pada tanggal 24 Juni 2017, jarak bulan matahari sudah mencapai 4.9580 sehingga parameter ini sudah bisa dinyatakan bahwa ba’da Maghrib sudah masuk 1 Syawal.

Umur Bulan = 8H 18M

Pada tanggal 24 Juni 2017, umur bulan sudah 8 Jam 18 Menit pada saat Maghrib sehingga berdasarkan kriteria sudah masuk 1 Syawal.

===

Nah dari hasil tersebut tampak bahwa pada tanggal 24 Juni 2017 tepatnya saat Sunset alias saat masuk Maghrib adalah permulaan Syawal, sehingga pada tanggal 24 Juni 2017 (malam Minggu) kita sudah Takbiran, dan lebaran adalah pada hari Minggu, 25 Juni 2017.

Oh, ya sampai kelupaan, saya sekeluarga mengucapkan Mohon Maaf Lahir dan Bathin, semoga amal ibadah kita semua mendapat Ridho Allah SWT. Amiiin … ?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *